Showing posts with label Lagi Bener. Show all posts
Showing posts with label Lagi Bener. Show all posts
Saat masih jadi pengangguran, siklus kesibukan gue hanyalah makan, nonton TV, main laptop, dan pup. Tapi sekarang, setelah bekerja di salah satu digital agency di Jakarta, kesibukan gue meningkat drastis. Bahkan saking sibuknya, gue pun dituntut untuk mengerjakan beberapa hal secara bersamaan. Misalnya makan sambil nonton TV, makan sambil main laptop, atau makan sambil pup.

Alhasil karena kesibukan dan ditambah rasa malas gue yang lebih besar dari dada Agung Hercules, gue jadi jarang buka blog. Sampai akhirnya hari Kamis yang lalu, kerjaan di kantor membuat gue membuka akun Google Analytic*.

(*) sebuah tools untuk menganalisa statistik pengunjung website/blog yang kita punya.

Dari Google Analytic, gue jadi tau bahwa dalam satu bulan terakhir, rata-rata pengunjung blog gue menurun. Hal ini otomatis memecut semangat gue untuk bikin postingan baru. Jadi kalau sebelumnya rasa malas gue lebih besar dari dada Agung Hercules, maka saat ini keinginan gue untuk menulis postingan menjadi jauh lebih besar dari dada Melinda Dee Hulk.

Nah di postingan kali ini, gue mau coba me-review 2 buah film yang paling gue tunggu di tahun 2016. Yaitu Suicide Squad dan Anak Jalanan the Movie.....
.
.
.
Gak deng, bercanda. Suicide Squad dan Sabtu Bersama Bapak.

Yaa, emang sih agak telat, karena filmnya pun udah gak tayang lagi di bioskop. Tapi percayalah.. seorang kepala mafia di Brazil pernah bilang : "lebih baik telat bikin review film daripada telat sadar kalau ternyata gebetan juga punya perasaan yang sama kaya kita."

1. Suicide Squad


Sebagai seseorang yang bukan DC fanboy, gue justru baru tau tentang Suicide Squad setelah nonton trailernya yang sempat booming di Twitter. Potongan scene yang menarik, karakter Joker yang lebih modern, dan ditambah backsound dari lagu Bohemian Rhapsody cukup membuat gue berkespektasi lebih terhadap film ini. Walaupun sayangnya, setelah nonton filmnya di bioskop, ada beberapa bagian yang sedikit membuat kecewa.

     - Alur cerita
Dari sisi cerita, Suicide Squad sebenarnya punya opening yang keren. Tapi sampai di tahap pengenalan tokoh, konflik yang ada terkesan gak berkembang dan kurang greget. Sehingga hal ini berefek pada ending cerita yang mudah ditebak.

Padahal menurut gue, cerita adalah salah satu faktor yang paling penting dalam sebuah film. Jadi kalau aja film ini sedikit ditambahkan twist tak terduga atau konfliknya sedikit dibuat lebih rumit --seperti misalnya Harley Quinn yang ternyata punya kerjaan sampingan sebagai beauty vlogger dan dia harus memilih antara bikin video mailtime atau melawan Enchantress-- mungkin ceritanya pun akan menjadi lebih menarik.

     - Tokoh
Sedangkan dari sisi tokoh, penggambaran karakter Joker yang metroseksual tapi tetap psycho di trailernya, justru gak mendapatkan porsi lebih. Padahal gue yakin, di luar sana ada banyak orang selain gue yang juga penasaran dengan Joker versi Jared Leto. Terlebih lagi karena ia pernah mendapat piala Oscar sebagai aktor pendukung terbaik di tahun 2014 lalu.

Mungkin balik lagi karena gue bukan seorang DC fanboy, jadi untuk beberapa karakter, gue merasa latar belakang "mengapa mereka disebut penjahat kelas kakap" masih samar. Seperti misalnya yang paling terasa adalah latar belakang kisah dari karakter Killer Croc.

Di sisi lain, justru penampilan Margot Robbie-lah yang menurut gue terbaik di film ini. Konyol, lucu, manja, cantik, seksi dan psycho semuanya keluar ketika ia memerankan karakter Harley Quinn. Chemistry kuat yang dibangun bersama Joker pun memberikan gambaran unik kisah cinta partner in crime gila yang jarang ditemui dalam film superhero lainnya.

Satu-satunya kekurangan Harley Quinn hanya terletak pada panggilan sayangnya buat Joker, yaitu Puddin'. Sebenarnya gak ada yang salah sih dengan kata tersebut. Tapi gue takut kalau ternyata film ini menginspirasi anak-anak ABG di Indonesia untuk ikut-ikutan manggil pacar mereka dengan sebutan Puddin'. Karena akan jadi gak lucu kalau kedepannya kita menemukan dua anak SMP lagi pacaran di fly over, lalu si cewek bilang : "My puddin, hari ini kita belum melakukan tindak kejahatan bareng-bareng loh. Gimana kalau kita pencetin bel rumah orang di komplek A terus cepet-cepet lari?"

Sungguh kejahatan paling tidak manusiawi yang pernah ada di muka bumi...

     - Lainnya
Meskipun ringan dari sisi cerita, menurut gue Suicide Squad patut mendapat apresiasi dari sisi visual dan music scoring. Pemilihan tone warna yang keren, visual effect yang rapi, dan ditambah dengan soundtrack pengisi film, seperti Bohemian Rhapsody yang dicover Panic! at the Disco serta Purple Lamborghini yang dibawakan oleh Skrillex dan Rick Ross, cukup membuat kekecewaan gue terobati. Jadi secara keseluruhan, film ini akan sangat menghibur jika kita tidak hanya melihat dari sisi cerita saja.

2. Sabtu Bersama Bapak



Di hari lebaran yang lalu, Andra (yang sebelumnya gue ceritain di postingan ini) ngechat gue.
Pohon gandum, pohon cemara
Assalamualaikum, wahai saudara

Pohon inang pohon benalu
Ikan lele ikan patin
Tanpa terasa ramadhan berlalu
Mohon maaf lahir dan bathin

Ada hewan makan besi
Ada yang punya air raksa
Wahai kawan jangan emosi
Kalo pantunnya rada maksa.

Eid Mubaraq, semoga kedepannya menjadi insan yang lebih baik

Andra dan Keluarga

Karena gak mau kalah, gue pun balas chat dia dengan ucapan selamat lebaran paling puitis, penuh makna, dan legendaris.
Walau hati gak sebening XL dan secerah MENTARI. Banyak khilaf yang buat FREN kecewa, kuminta SIMPATI-mu untuk BEBAS-kan diri dari ROAMING dosa, kita hanya bisa angkat JEMPOL pada-Nya yang selalu buat kita HOKI dalam mencari kartu AS dan STAR ONE selama hidup, kita harus FLEXI-bel untuk menerima semua pemberian-Nya dan menjalani MATRIX kehidupan ini. Semoga amal kita tidak ESIA-ESIA.

Rizqi Kautsar
(masih sendiri)
Ya, itu adalah template ucapan selamat lebaran yang udah gue pakai sejak masih SMP,  saat handphone gue masih Nokia 3310. Saat SMS belum tergantikan oleh Whatsapp dan LINE. Serta saat beban pikiran terbesar gue adalah bagaimana cara bolos ekskul setiap hari Sabtu, bukan bagaimana cara bayar cicilan sementara uang udah habis dipakai keperluan lain yang juga mendesak setiap bulannya.
.
.
.
Sianying malah curhat....... :(
Lanjut!

Berawal dari chat tersebut, Andra pun mengajak gue untuk nonton film Sabtu Bersama Bapak. Tapi karena takut nangis saat nonton, dan dua orang cowok yang nangis bareng di bioskop itu sama sekali gak keliatan macho, akhirnya kita sepakat untuk mengajak masing-masing satu teman cewek. Selain itu, kita juga sepakat untuk nonton di bioskop yang relatif sepi, agar bisa mesum tanpa ketauan lebih menikmati filmnya.

Selang beberapa hari kemudian, ketika gue akan masuk ke dalam bioskop, timbul sedikit kekhawatiran bahwa film Sabtu Bersama Bapak tidak akan sebagus novelnya. Yaa, walaupun sebenarnya sih kita gak bisa membandingkan keduanya secara langsung, karena novel dan film adalah dua genre seni yang berbeda. Tapi ketika gue melangkah keluar dari bioskop, kekhawatiran gue justru terjawab dengan baik, dan kesan yang gue dapat untuk film ini kurang lebih sebagai berikut :

     - Alur cerita

Dari sisi cerita, gue suka cara bagaimana Adhitya Mulya dan Monty Tiwa mengadaptasi bab-bab yang ada di dalam novel menjadi sebuah film berdurasi 111 menit. Meskipun gue juga merasa kalau alur pada tahap pengenalan tokoh agak terlalu cepat, namun ketika konflik masing-masing tokoh utama mulai berkembang, cerita jadi lebih mengalir dan enak untuk dinikmati.

Tak ketinggalan, ciri khas seorang Adhitya Mulya yang selalu menyisipkan unsur komedi dengan banyak pesan tersirat pun membuat film ini seperti sebuah "paket yang lengkap".

     - Tokoh

Sedangkan dari sisi tokoh, hampir semua pemain memerankan karakter yang sesuai dengan bayangan gue saat membaca novelnya. Seperti sosok Pak Gunawan (Abimana Aryasatya) yang dewasa, Ibu Itje (Ira Wibowo) yang tegar, Ayu (Sheila Dara Aisha) yang kalem, pasangan Satya - Rissa (Arifin Putra - Acha Septriasa) yang serasi, serta pemeran pendukung Firman (Ernest Prakasa) dan Wati (Jennifer Arnelita) yang otaknya gesrek.

Hanya Deva Mahenra yang menurut gue "terlalu ganteng" untuk memerankan karakter Cakra. Karena kalau kita membaca novel Sabtu Bersama Bapak, ada dua potongan kalimat yang cukup menggambarkan sosoknya, yaitu :
1. "Cakra berambut ikal dan menjadi gimbal tak terkendali setiap kali terlambat potong rambut. Itu sebabnya dia selalu memotong rambutnya pendek..." (Sabtu Bersama Bapak, hal. 10) 
2. "...jika sang kakak dan adik harus menggantungkan nyawa mereka kepada kegantengan masing-masing, Cakra akan mati lebih dulu. Dengan cepat." (Sabtu Bersama Bapak, hal. 10)  
Kesimpulan :
  • Cakra (versi novel) : gak terlalu ganteng, berambut ikal dan jadi gimbal kalau terlambat potong rambut.
  • Deva Mahenra : ganteng banget, rambut lurus.
  • Gue : gak terlalu ganteng, berambut ikal dan jadi gimbal (atau kribo) kalau terlambat potong rambut.
Dari tiga poin di atas, sangat jelas terlihat bahwa seharusnya yang memerankan karakter Cakra adalah gue. BUKAN Deva Mahenra!
Foto 4 tahun lalu, saat akting sebagai penjual stiker UI. Kurang cocok apa coba sama karakter Cakra (versi novel)? *digampar*

     - Lainnya

Secara keseluruhan, gue menyayangkan kombinasi antara cerita dan kualitas akting pemain yang cukup baik ini gak didukung dengan teknik editing yang baik pula. Efek lens flare dan blur di beberapa adegan emosional, serta color grading yang menurut gue agak kurang pas, membuat kenyamanan saat menonton sedikit terganggu. Tapi terlepas dari hal tersebut, gue tetap puas karena akhirnya salah satu novel favorit gue telah diadaptasi menjadi sebuah film dengan cukup baik.

So buat kalian yang belum sempet nonton film Suicide Squad dan Sabtu Bersama Bapak di bioskop, gue sangat merekomendasikan untuk menonton kedua film ini ketika DVD originalnya telah rilis nanti.

Last but not least, saran gue untuk para orang tua yang ingin membawa anaknya nonton di bioskop, tolong pilih film yang rating umurnya sesuai. Entah itu semua umur (SU), remaja (R) ataupun dewasa (D). Karena selalu ada kemungkinan anak kalian akan mengganggu penonton lainnya.

Seperti misalnya kejadian saat gue menonton Sabtu Bersama Bapak kemarin. Ketika film hampir sampai pada klimaksnya, semua orang fokus ke layar, suasana menjadi begitu hening, gue dan Andra pun udah siap-siap nangis kejer. Lalu tiba-tiba seorang anak kecil di samping gue teriak "Ih, mama nangis... Pah, coba liat, Pah! Mama masa nangis..."
.
.
.
.
.
Err...
.
.
.
.
.
Ini tuh ibarat mau BAB, udah jongkok, ujungnya udah keluar dan ngegantung. Tiba-tiba pintu WC didobrak orang tak dikenal dan dia teriak : "IH ADA YANG EEK... PAH, COBA LIAT, PAH! MASA ADA YANG EEK."

FAKYU!
Di postingan sebelumnya, gue sempet cerita sedikit tentang salah satu novel yang udah mulai gue baca sejak bulan Oktober 2015 lalu. Novel tersebut berjudul Confessions of a Call Center Gal, bergenre chicklit, dan terdiri dari 461 halaman.
Confessions of a Call Center Gal
cover Confessions of a Call Center Gal (sumber)

Sebenernya sekilas gak ada yang salah dengan bukunya. Tapi karena gue baca yang versi terjemahan, bahasa di dalamnya malah terkesan "kaku", sehingga beberapa jokes yang ada jadi "tanggung" dan "kurang kena". Padahal banyak review yang bilang kalau jokes di buku ini tuh sama kampretnya dengan jokes di buku-bukunya Sophie Kinsella.

Alhasil gue pun butuh waktu sekitar 9 bulan buat baca buku ini sampai selesai. IYA, 9 BULAN... yang kalo diibaratkan orang pacaran, 9 bulan adalah masa di mana sifat asli atau kebiasaan aneh pasangan perlahan mulai muncul. Misalnya kebiasaan si pacar saat lagi ngedate yang suka ngegigitin kuku...
.
.
.
kuku jempol kaki...
.
.
.
jempol kaki Pak RT...



Oke, ini mulai absurd. Back to topic.

Jadi tepatnya hari Jum'at kemarin, novel tersebut selesai gue baca. Alurnya kurang lebih kaya gini :
Seorang cewe bernama Maddy baru lulus kuliah  lalu ia diajak sahabatnya, Karsyn, untuk kerja di Kantor Operator  di sana Maddy ketemu Mika, cowok ganteng yang udah punya pacar   Mika diselingkuhin pacarnya  Mika deket sama Maddy  akhirnya Mika dan Maddy jadian.
YHA! Beginilah ekspresi gue saat sadar telah menghabiskan waktu 9 bulan untuk baca novel dengan alur cerita yang lebih mirip FTV SC*TV :
9 bulan yang...........

Emang sih ketika memutuskan buat beli dan baca novel ini, gue emang gak terlalu berharap lebih sama alurnya. Karena sebenernya gue lebih penasaran sama sisi komedi yang ada. Lagipula agak gak mungkin juga di sebuah novel chicklit kita bisa menemukan twist-twist yang tak terduga seperti :
  • Ternyata Maddy seorang ketua sekte pemuja setan terbesar di Idaho1 dan dia ngedeketin Mika karena sektenya butuh tumbal seorang cowok jomblo ganteng yang lagi patah hati, atau
  • Ternyata Mika adalah alien dari planet Namec yang diutus untuk nyari Dragon Ball. Tapi nyasar ke Idaho karena dia gak bisa buka GMaps, akibat lupa ngisi paket internet.
1 Idaho : latar tempat di novel Confessions of a Call Center Gal.

Tapi dari buku tersebut ada satu hal yang gue bisa ambil, yaitu : jadi costumer service itu gak gampang. Di satu sisi, mereka ditekan oleh perusahaan untuk mencapai target penjualan. Tapi di sisi lain mereka juga dipaksa harus tetap memberikan pelayanan terbaik ke pelanggan.

Kalo mengutip salah satu paragraf di bab akhir buku ini :
"Ketika penelpon menyerang dengan melempar makian, ancaman, keluhan, omelan dan kata-kata negatif, itu menimbulkan efek pada kami setelah beberapa saat. Percayalah padaku; aku sudah sering melihat beberapa teman kerjaku menangis dan menderita gangguan saraf. Tapi kurasa aku juga bisa melihat apa yang dirasakan kedua belah pihak (-re : penelpon dan customer service). Kadang-kadang keluhan dan rasa frustasi para penelpon bisa dimaklumi. Mereka tidak menelpon kalau mereka bahagia dan puas; mereka hanya menelpon ketika ada masalah dan mereka marah."
Well.. walaupun alurnya ringan, tapi novel ini cukup membuat gue berpikir tentang kutipan paragraf di atas, seraya berdoa semoga kedepannya gak banyak customer service yang nawarin kartu kredit atau tv kabel lagi ke gue. Saya belom minat, mbak~

"The world is a book, and those who do not travel read only one page." – Saint Augustine

*** 

Gimana judul sama introduction quote-nya? Udah kaya travel blogger belum? Hahaha.

Well.. beberapa hari yang lalu, gue ikut acara #Blogger17an. Acaranya sangat spesial, terlebih buat seorang blogger yang jarang bikin postingan kaya gue, karena hanya orang-orang yang diundang aja yang bisa datang. Di acara tersebut gue banyak ketemu blogger-blogger keren, yang beberapa di antaranya adalah seorang travel blogger. Banyak hal yang bisa gue dapat setelah sharing dengan mereka. Salah satunya adalah gue jadi sadar kalau ternyata traveling itu penting untuk menyegarkan otak setelah menjalani rutinitas sehari-hari.
Di postingan sebelumnya (klik untuk buka postingan), ada satu pertanyaan yang muncul setelah gue mendapatkan cobaan paling berat bagi manusia ketika di jalan. Ya, ketemu ibu-ibu yang ngasih lampu sen ke kiri, tapi malah belok ke kanan.

Menurut gue, ibu-ibu yang kaya gitu tuh ibarat gebetan yang saat PDKT udah manggil "sayang", tapi giliran ditembak malah nolak. Bikin kita kesel dan mau marah, tapi gak bisa.
Awalnya kemarin malam gue mau nulis tentang pengalaman cinta monyet gue ketika masih SD. Karena gue merasa, suasana malam itu udah ngedukung banget. Di luar hujan rintik-rintik, malam minggu, dan playlist di laptop lagi ngeplay lagunya Endah n Rhesa yang When You Love Someone. Pengen rasanya gue nyilet-nyilet tangan dan nulis nama mantan gebetan disitu biar kaya anak gaul. Tapi apalah daya, di rumah gue gak ada silet, adanya cuma pisau pramuka yang udah karatan. Gue yang takut kena penyakit tetanus pun akhirnya mengurungkan niat tersebut. Seketika gue gagal jadi anak gaul.
Menurut gue masa SMP adalah masa dimana kita mulai mengenal cinta. Gak cuma itu, gue juga percaya kalau ada dua hal yang bisa merubah seseorang, yaitu jatuh hati dan patah hati.

Misalnya seperti saat gue masih kelas 3 SMP. Saat itu, gue suka latihan futsal di lapangan deket rumah. Walaupun kemampuan gue dalam mengolah si kulit bundar jauh dari kata jago. Rekor gue dalam satu pertandingan adalah mencetak lima gol! Kelima gol tersebut gue cetak saat ngadu bola sama anak-anak TK Darurrahman yang kebetulan lagi main di lapangan deket rumah. Gila, jago banget kan?

Alasan gue sebenernya sederhana, sebagian besar cewek suka sama cowok yang bisa main musik atau doyan olahraga. Karena dalam hal bermain musik gue cuma bisa tepuk tangan dan itupun masih fals, akhirnya gue milih untuk ikut latihan futsal. Ya.. kali aja dengan ikut latihan futsal gue bisa punya pacar kaya Victoria Beckham, atau minimal mirip Jennifer Bachdim lah. Kebetulan.. mantan gebetan gue saat itu emang suka sama cowok yang jago futsal. Alhasil dengan berbekal pernah mencetak lima gol dalam satu pertandingan, gue berani deketin dia.

Tapi kadang kenyataan gak sejalan dengan harapan. Gue yang berharap bisa jadi sekeren Cristiano Ronaldo karena ikut latihan futsal, malah jadi lebih mirip Mario Balotelli versi kurang gizi. Iya, gue sama dia pun gak jadian, karena gue terlalu lama memendam perasaan yang ada. Akhirnya, dia lebih milih buat jadian sama teman satu kelasnya. Pedih...

Gara-gara ditinggal jadian sama gebetan, kebiasaan gue berubah drastis. Dari yang tadinya setiap hari Minggu pagi diisi dengan latihan futsal atau jogging. Saat itu, hari Minggu gue jadi lebih sering diisi dengan tidur sampai siang. Tanpa terasa, kebiasaan itu pun berlanjut.......... sampai gue kuliah semester 4.

Suatu hari, di tengah liburan semester genap, gue memilih untuk bangun pagi dan gak tidur lagi. Keinginan gue untuk ikut latihan futsal pun meningkat drastis. Tidur sampai siang? nggak dulu deh, udara dan sinar matahari pagi lebih menyehatkan. Lagian gue juga percaya sama wejangan orang tua yang bilang "Jangan tidur sampai siang, nanti rejekinya dipatok Ayam." (P.S. : Jodoh bagian dari rezeki.)

Skip.

Tapi ternyata, hari itu bukan hari keberuntungan gue. Karena hari itu adalah jadwal untuk latihan fisik. Kampret.. gue jogging 5 menit aja udah ngos-ngosan, lah ini disuruh lari 30 menit, s(h)it up 50 kali, push up 50 kali, crunch 50 kali dan plank 5 x 1 menit. Hasilnya, gue pun tepar di pinggir lapangan, sedangkan yang lain asik main futsal setelah latihan fisik tadi. 

Saat gue lagi duduk di pinggir lapangan, tiba-tiba pelatih nyamperin gue dan nanya :
        “Gimana, Sar? Capek?”
        “MENURUT LOOO????”
Nggak deng, gue gak jawab begitu. Gue takut dilempar pakai bola futsal kempes sama dia. Akhirnya gue pun jawab dengan sedikit berbohong.

        “Hehehe. Nggak kok, Mas. Cuma karena jarang latihan aja nih.”
        “Oh, gimana kuliah?”
        “Ya gitulah, Mas…… abstrak. Hahahaha” jawab gue dengan tampang minta disambit.
        “Jangan sia-siain kuliahnya, Sar. Belajar yang bener! Kuliah sekarang kan gak murah...”

JENG-JENG-JENG!!!

Sebenernya, ada yang sedikit unik kalau nyeritain tentang pelatih gue ini. Jadi, dia adalah mantan pemain PSDS Deli Serdang. Salah satu tim yang pernah bermain di divisi 1 Liga Indonesia. Pemain-pemain seperti Markus Horison, Saktiawan Sinaga pernah jadi lawan ataupun teman satu tim dia. Tapi akhirnya, dia pun memilih untuk keluar dari sepak bola profesional. Alasannya cuma satu, dia ingin fokus buat lanjut kuliah. Salut!

PSDS Deli Serdang
Logo tim PSDS Deli Serdang

Balik lagi ke percakapan tadi, gue yang sebelumnya sudah tau kalau dia pernah membela tim sekelas PSDS pun nyoba iseng nanya :
        "Mas, kenapa gak lanjut main bola? kok milih kuliah?"
        "Iya, jadi waktu gue masih tinggal di Medan, gue sempet dikasih pilihan sama orang tua, mau tinggal di Medan buat lanjut main bola apa tinggal di Jakarta buat lanjut kuliah. Awalnya sih sempet bingung buat milih yang mana. Tapi gue akhirnya sadar kalau gue gak bisa selamanya bergantung sama sepak bola. Walaupun saat itu gue udah dapet gaji dari tim, masa depan gue di tim itu juga gak punya jaminan. Coba kalo misalkan tim gue saat itu bangkrut, terus gue gak punya gelar apa-apa, mau kerja apa gue? Wong yang sarjana aja masih banyak yang nganggur, apalagi gue yang cuma lulusan SMA. Lagian... sepak bola kita udah 'gak sehat'."
          "Gak sehat? Maksudnya, Mas?" kata gue dengan muka ngantuk gara-gara denger penjelasan dia yang terlalu panjang.
          "Iya, sebelum main di PSDS, gue pernah main di salah satu liga amatir. Saat itu tim gue masuk final, dan bakal ketemu sama timnya Markus Horison. Saat pertandingan berlangsung, babak pertama berjalan cukup lancar. Tim gue masih unggul 1 - 0. Tapi saat istirahat babak pertama, manajer tim gue masuk ke ruang ganti, dia menginstruksikan buat 'ngalah' dan ngasih kemenangan ke tim lawan. Dia juga menjanjikan 'bonus yang lumayan besar' kalau kita ngikutin instruksi dari dia. Ternyata benar, babak kedua berlangsung agak aneh. Di sisa pertandingan itu, gue dan salah satu teman gue kena kartu merah, cuma karena ngelakuin pelanggaran yang gak berbahaya. Yaa, walaupun akhirnya tim gue pun menang dengan skor 2 - 1 di pertandingan itu."

Karena dia memberikan penjelasan yang cukup panjang yang kedua kalinya, akhirnya gue bener-bener ketiduran dan langsung dilempar pakai bola futsal sama pelatih gue.

Hahaha, nggak deng... bercanda.

Karena gue pendengar yang baik, gue pun mencoba merespon penjelasan dia tadi.
          "Wah, itu beneran, Mas?"
          "Iya, gak heran makanya kalau sepak bola kita gini-gini aja. Makanya, kuliah yang benar, Sar. Serius belajarnya. Kuliah udah mahal banget sekarang... Yaudah yuk, pendinginan dulu. Biar bisa kita tutup sesi latihannya."

Well, hari itu mungkin bukan hari keberuntungan gue karena jadwalnya latihan fisik setelah lama gak latihan futsal. Tapi ada satu hal penting yang gue dapet hari itu, yap.. motivasi tentang kuliah. Gue jadi sadar betapa beruntungnya gue karena bisa melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Gue juga pernah baca salah satu artikel di internet, kalau hanya 7,2% anak-anak Indonesia yang bisa menikmati bangku perkuliahan dan gue bisa jadi salah satu diantaranya.

Tiga tahun menjalani kuliah emang gak terasa. Apalagi kalau dijalaninnya sambil nyari pacar tapi gak dapet-dapet. Bener-bener terasa cepet banget! Sekarang, gue udah resmi jadi mahasiswa tingkat akhir... dan itu berarti, gak lama lagi gue bakal berurusan sama hal kampret bernama Skripsi. Kalau diibaratkan ke dalam sebuah game, Skripsi adalah raja terakhir dan kita butuh motivasi yang kuat untuk bisa menyelesaikan 'game' tersebut.

By the way... Sebenernya postingan ini udah sekitar satu tahun jadi draft di blog gue. Tapi, entah kenapa baru kali ini bisa gue publish. Gue pikir, postingan ini nantinya mungkin akan berguna dan bisa jadi semacam 'motivasi kecil' buat gue untuk menyelesaikan 'game' yang sedang gue mainkan ini.
.
.
.
.
.
.
P.S. : NYARI BAHAN BUAT SKRIPSI TERUS, NYARI PENDAMPING WISUDANYA KAPAN? EHE EHE EHE EHE~
'Kamu mau lanjut sekolah dimana, sar?' tanya Mama.
'SMPN 3 aja, ma..' kata gue sambil ngorek-ngorek tanah buat bikin kolam ikan.
'Oh, yaudah nanti mama bilang ke guru kamu, biar di daftarin kolektif.' kata mama.
'Iya, ma.. habis itu aku mau sekolah di SMAN 1 ya, terus kuliahnya di UI deh. Jurusan kedokteran!' kata gue sambil ngelemparin lele bule ke kolam. 


Lele Bule
Orang lain biasa nyebut spesies ini lele albino, kalo orang bekasi nyebutnya lele bule!

Saat itu gue emang baru aja lulus SD. Tapi gue bersyukur, dari kecil gue udah dibebasin buat menentukan pilihan, termasuk dalam memilih sekolah. Orang tua gue cuma memposisikan diri mereka sebagai pemberi saran biar gue gak terlalu jauh keluar 'jalur'. Oleh karena itu, dari sejak masih SD pun gue udah mulai menyusun mimpi-mimpi gue.
Belakangan ini kemajuan teknologi yang ada di dunia semakin pesat. Ini ditandai dengan semakin mudahnya kita dalam mengakses sebuah informasi. Namun, ada kalanya para developer melupakan sebuah parameter dasar yang sangat vital dalam sebuah sistem informasi. Parameter ini biasa disebut dengan C.I.A atau Confidentiality, Integrity dan Availability.
C.I.A adalah sebuah parameter umum yang digunakan untuk menilai baik atau buruknya sebuah keamanan pada suatu jaringan, yang ditinjau dari tiga aspek, yaitu : confidentiality (kerahasiaan), integrity (integritas) dan availability (ketersediaan) suatu informasi.
Sebenernya postingan kali ini udah cukup lama gue simpen di draft blog gue. Postingan ini masih ada di draft karena gue emang nunggu waktu yang pas buat di publish. Ya mungkin sama kaya perasaan sih, kalo waktunya gak pas, walaupun sebenernya dia juga suka sama kita ya pasti di tolak~ Begitu juga dengan postingan ini, jadi kemaren gue nyoba ikutan kontes review (baca artikelnya di Pulsa vs Anak Kost) gitu dan nyoba fokus ke kontes tersebut. Walaupun hasilnya cuma dapet hadiah hiburan tapi lumayan lah, cukup bikin semangat nulis lagi.
Hari ini tepat dua bulan gue liburan semester genap. Selama dua bulan libur, online dan tidur adalah hal yang paling sering gue lakuin. Emang sih, waktu yang banyak buat online bikin gue lebih bisa ngurusin blog ini, mulai dari bikin postingan sampai blogwalking ke blog orang. Tapi tadi siang, gue coba baca ulang postingan-postingan gue. Satu hal yang gue dapet, ternyata setelah kurang lebih setaun bikin blog ini, gue belom punya postingan dengan kategori "Lagi Bener".


Ternyata selama ini gue lebih sering galau sama ngaco daripada benernya. Pffft.
Latest
Previous
Next Post »