Kemarin sore, saat lagi asyik ngescroll foto Uya Kuya di Instagram buat referensi outfit awal tahun, gue liat satu update dari mantan tentang buku yang lagi dia baca. Ya, kami emang udah putus. Tapi kami berdua masih cukup dekat. Karena kami sama-sama percaya, dengan berakhirnya sebuah hubungan, bukan berarti berakhir pula silaturahmi yang selama ini sudah terjalin.

*senyum ganteng*

maudy ayunda suka baca novel
Nama artis yang baik sama orang lagi main ayunan. Mau diayun nda? Hehe. 

Oke, SKIP!

Jadi intinya, gue liat Maudy Ayunda update tentang #maudyreads di Instagram, dan hal tersebut bikin gue inget kalau ada buku-buku yang udah gue beli, tapi belom sempet dibaca. Termasuk ketujuh buku yang gue beli di Big Bad Wolf bulan Mei dua tahun lalu.

Iya, BULAN MEI DUA TAHUN LALU...

***

Dua tahun lebih gak baca buku, ternyata cukup mengubah beberapa hal yang ada di dalam hidup gue. Misalnya kalau dulu, setiap sebulan sekali, gue baca minimal satu buku berdasarkan rekomendasi teman atau Goodreads Choice Awards. Tapi sekarang, gue jadi lebih sering mengisi hari dengan membaca tulisan-tulisan yang kurang berfaedah, seperti berita hoax di grup Facebook, berita tentang Nia Ramadhani yang akhirnya bisa ngupas kulit salak, hingga berita tentang Lucinta Luna yang ngaku mirip Lisa Blackpink. Absurd abis.

Gak cuma itu aja, perubahan lain yang gue rasakan adalah semakin terbengkalainya blog ini. Karena jangankan merangkai 300-1000 kata untuk bikin postingan, nyari beberapa kata untuk ganti password Instagram aja gue bingung. Lalu terjadilah siklus ngeselin kaya gini :

*reset password Instagram*

masukin kata pertama
     Error - create a new password you haven't used before.
masukin kata kedua
     Error - create a new password you haven't used before.
masukin kata ketiga
     Error - create a new password you haven't used before.

masukin kata ke 93
     Your password has been changed successfully.

*keesokan harinya*

"password Instagram gue apa ya?"
     reset password Instagram lagi. Kampret...


Padahal kalau sedikit balik ke tahun 2012, gue buat blog ini karena saat itu gue setuju dengan sebuah artikel di Huffington Post, yang bilang bahwa menulis merupakan salah satu self healing paling mujarab. Di mana kita bisa meluapkan semua jenis emosi melalui sebuah tulisan. Yaa, meskipun buat gue, gak semua tulisan yang udah gue tulis di blog ini, langsung gue publish. Karena ada beberapa yang akhirnya cuma mengendap sebagai sebuah draft. But at least, itu udah cukup buat gue ngerasa lebih lega setelah menulis. 

Ada banyak topik yang sebenernya pengen gue bahas di postingan kali ini, tapi karena takut isinya terlalu panjang lalu dibikin beberapa halaman kaya berita-berita di Tribunnews, maka gue pun memutuskan hanya akan membahas 2 topik, yaitu : 
     1. Tentang prestasi gue dalam menaikkan berat badan,
     2. Tentang modern parenting yang cukup erat kaitannya dengan para orang tua dan calon orang tua seumuran gue.

***

Selama hampir 4 tahun kerja di tempat yang sekarang, berat badan gue naik drastis. Dari yang tadinya masih muat pakai baju ukuran S, sekarang gue harus pakai baju ukuran L. Dari yang tadinya masih muat pakai celana ukuran 30, sekarang gue harus pakai celana ukuran 35, dan dari yang tadinya badan gue atletis kaya Irfan Bachdim, sekarang badan gue jadi kaya logo Michelin...
.
.
.
.
.
Eh nggak deng, tetep kaya Irfan Bachdim. Tapi versi yang rutin makan nasi padang dan makan Indomie double setiap lagi begadang.

Well, karena penasaran, gue akhirnya coba memberanikan diri untuk nimbang berat badan. Hasilnya ternyata, berat gue naik 18kg! Atau kalau buat kalian yang gak kebayang 18kg itu kaya apa. Maka 18kg itu setara dengan 3 buah tabung gas elpiji kosong yang berwarna hijau. Itupun masih kurang 3kg lagi.

gas elpiji 3 kg
Tulisan di kotak merah 》berat kosong : 5 kg

Berat badan gue bisa naik secepat itu karena setelah kerja, intensitas gue dalam berolahraga jadi sangat jarang. Dulu saat kuliah, gue lumayan sering jogging keliling UI, main bulutangkis, dan kadang-kadang main futsal. Tetapi sekarang, olahraga gue hanyalah futsal rutin bareng teman-teman kantor satu minggu sekali. Itupun gue cuma main beberapa menit dan berperan sebagai kiper. Jadi kalau misalkan orang lain futsal satu jam bisa membakar 580 kalori. Maka gue dengan futsal yang dijalani, bisa membakar -100 kalori. Karena setelah selesai futsal, gue biasanya langsung makan Indomie di daerah Petogogan atau beli ketoprak di abang-abang deket rumah... dengan porsi satu setengah.

Sejak berat badan gue naik, gak tau udah berapa banyak teman yang bertanya pada gue tentang "kok lo gemukan sih?". Sementara selama ini, gue selalu menjawabnya dengan santai atau malah bercanda. Karena kalau menurut salah seorang psikolog klinis, Tara de Thouars : "Otak kita tidak bisa memproses suatu hal yang ribet. Jadi begitu ketemu orang, yang pertama kali dilihat adalah fisiknya. Itulah yang kadang langsung diucapkan (untuk bahan basa-basi)" link artikel. Sedangkan kalau menurut gue, hal tersebut gak cuma terbatas pada tampilan fisik aja, tapi juga pada semua yang dapat dilihat sekilas oleh mata. Seperti contohnya ketika kita sering travelling, orang lain akan bertanya "duitnya gak abis-abis yaa? kok jalan-jalan terus?". Ketika kita udah mapan + udah pacaran cukup lama, orang lain akan bertanya "kapan nikah? apalagi sih yang dicari?", dan ketika kita udah menikah, lalu punya anak sebanyak 47 orang pun gue yakin masih akan tetap ada yang bertanya "kamu kapan nambah anak lagi? Gak mau sekalian bikin JKT48 versi keluarga? Biar bisa ngalahin Gen Halilintar loh".

Kampret kuadrat...

Di samping itu semua, gue harus tetep bersyukur. Karena sepertinya gue memiliki tipe tubuh mesomorph, yang relatif lebih mudah untuk menurunkan atau menaikkan berat badan. Tinggal bagaimana gue lebih konsisten untuk mengatur pola makan dan menambah intensitas olahraga aja.

Seperti beberapa minggu lalu misalnya, gue udah mulai ngesave menu diet harian Cristiano Ronaldo yang gue temukan di timeline Twitter. Lalu weekend ini, gue juga udah mulai merencanakan untuk jogging di CFD. Yaa, walaupun baru sebatas rencana, karena pada akhirnya hari itu gue memilih untuk lanjut tidur. Tapi tenang, ini bukan wacana kok. Gue hanya sedang pada tahap mematangkan rencananya aja~ 

Notes: buat Mohammad Zohri, gue udah mulai merencanakan jogging lagi nih, dan kayanya akan konsisten lari. So, prepare yourself harder, ya. Asian Games 2022 kita buktikan siapa yang dipilih oleh pelatih. *senyum licik*

menu diet Cristiano Ronaldo
Cristiano Ronaldo pasti gak tau gimana enaknya sarapan pake nasi uduk + bakwan.
(sumber: twitter.com/panditfootball)

***

Last but not least, ada perubahan yang belakangan ini gue dan mungkin orang-orang seumuran gue juga rasakan, yaitu perlahan teman-teman gue banyak yang menikah. Beberapa di antaranya bahkan ada yang udah jadi orang tua. So, congrats buat kalian... Gue ikut senang! Apalagi ketika ngeliat anak-anak kalian tumbuh, meskipun hanya dari Instagram story, tapi yaa seru aja gitu. Ada yang lagi lucu-lucunya belajar merangkak, ada yang lagi bawel-bawelnya belajar ngomong, ada juga yang lagi sibuk-sibuknya belajar buat ngejokiin sidang thesis orang tuanya.

Satu hal yang gue pelajari dari kondisi tersebut, terletak pada perbedaan cara mendidik anak, jika dibandingkan dengan bagaimana orang tua kita mendidik anak-anaknya saat masih kecil dulu. Kalau kata salah satu podcast yang pernah gue dengar, istilahnya disebut modern parenting. Di mana cara kita mendidik anak akan semakin berkembang seiring dengan pertumbuhan teknologi. Menurut gue, ada beberapa faktor yang akhirnya melatarbelakangi perubahan ini. Tapi... karena sekarang gue belum menikah dan belum punya anak, maka untuk topik modern parenting akan gue bahas lebih dalam setelah gue mengalaminya secara langsung. Yaitu ketika gue telah menjadi orang tua.

Jadi untuk postingan kali ini, gue rasa udah cukup. Sekarang gue mau lanjut main PS sambil nunggu mie goreng double + telur gue mateng~ Hahahaha.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Oh ya, kedepannya mungkin gue bakal nyoba rutin nulis postingan lagi di blog ini. Semoga bisa konsisten! See you~
Di pertengahan tahun 2011 lalu, gue resmi menyandang status mahasiswa. Gue keterima di salah satu universitas di kota Depok, dan berhubung jarak kampus tersebut dari rumah gue di Bekasi mencapai jutaan tahun cahaya. Maka bersamaan dengan itu, dimulai pula perjalanan gue sebagai seorang anak kost.

Ada cukup banyak barang yang gue persiapkan untuk dibawa langsung dari rumah, di mana beberapa di antaranya pernah gue tulis di postingan berjudul 10 Barang yang Harus Ada di Kostan. Namun sebagai simpatisan PKB (Penghuni Kost Baru), gue baru sadar bahwa ada satu barang penting yang gue lewatkan, setelah selama satu minggu pertama ngekost, gue selalu menuang air langsung dari galon (dengan cara memiringkannya) setiap kali mau minum. Yaa, gue lupa bawa dispenser ke kostan.

dispenser anak kost

Sayangnya, saat itu kondisi gue lagi super ribet. Karena sebagai mahasiswa baru, gue lumayan disibukkan dengan kegiatan ospek dan kegiatan kampus lainnya. Sehingga waktu gue untuk mencari dispenser yang ideal sangat lah terbatas. Pada awalnya, sebagai anak kost sejati, hanya ada tiga kriteria yang membuat sebuah dispenser itu layak untuk dimiliki, yaitu :
     1. murah,
     2. murah,
     3. bisa mengeluarkan air dari galon tanpa perlu dimiringkan.

Namun seiring berjalannya waktu, berdasarkan penelitian yang gue lakukan terhadap 2.712.109.126 anak kost di kota Depok, ditambah dengan pengalaman yang selama ini gue dapat, gue menemukan kriteria-kriteria lain yang sedikit lebih kompleks dari sebelumnya. So, di postingan kali ini, gue mau share tentang kriteria-kriteria tersebut. Dengan harapan, agar dapat mempermudah anak kost-anak kost baru yang sedang mencari dispenser ideal. Karena mengutip sebuah kalimat yang pernah diucapkan seorang filsuf Yunani, "jadi anak kost itu sulit, maka permudahlah hidup mereka dengan memberikan tips-tips melalui postingan blog".


1. Harga dan kualitas.

"Harga menentukan kualitas", istilah tersebut mungkin sering kita dengar ketika ingin membeli suatu barang yang memiliki tipe dan fitur begitu beragam. Sedangkan di sisi lain, kondisi keuangan anak kost yang sangat memprihatinkan terbatas, seolah menuntut kita untuk mendapatkan barang dengan kualitas terbaik, namun dengan harga yang seminimal mungkin. 

Jadi menurut gue, membuat skala prioritas pengeluaran sesuai dengan kebutuhan setiap bulan adalah cara yang paling bijak, untuk mempermudah kita mendapatkan sebuah dispenser ideal tanpa harus mengorbankan kebutuhan lainnya.

Karena akan sangat gak lucu kalau di awal bulan, kita memilih untuk membeli dispenser dengan harga mahal, tapi di hari-hari berikutnya, kita harus :
     - sarapan dengan Promag,
     - makan siang dengan mie instan,
     - dan makan malam dengan Mylanta biar ada variasi. 

Catatan : Sebelum membeli dispenser, coba lakukan survey sederhana tentang kelebihan dan kekurangan beberapa merek terkenal. Kalau kalian masih bingung, coba diskusi ke Penasihat Keuangan IMF untuk meminta solusi. Siapa tau mereka jadi sedih mendengar perjuangan kita sebagai anak kost, lalu membuat sebuah regulasi tentang pengurangan harga barang bagi seluruh anak kost di dunia.


2. Bahan tangki air yang digunakan.

Hal yang gak kalah penting dari sebuah dispenser ideal adalah bahan yang digunakan untuk tangki airnya. Pilihlah sebuah dispenser dengan tangki air berbahan stainless steel, karena bahan ini akan menjaga suhu panas dengan baik, serta memiliki kemampuan anti bakteri dan jamur. Sehingga tingkat kehigienisan dispenser jenis ini akan relatif lebih tinggi daripada dispenser lainnya.

Catatan : Ingat, ya! STAINLESS STEEL bukan BASTIAN STEEL!
emangnya kenapa?


3. Hemat listrik.

Terdapat dua jenis kostan yang ada di Indonesia, yaitu :
     - kostan yang harga kamarnya sudah termasuk biaya listrik, air, dll.
     - kostan yang memerlukan biaya tambahan lagi untuk bayar listrik, air, dll (biasanya memiliki harga kamar yang sedikit lebih murah).

Bagi kalian yang tinggal di kostan tipe pertama, kriteria kali ini mungkin gak terlalu berpengaruh secara langsung. Karena berapapun watt dispenser yang kita punya, kita akan tetap bayar kost dengan harga yang sama seperti sebelumnya. Tapi bagi kalian yang tinggal di kostan tipe kedua, kriteria kali ini sangat penting untuk diperhatikan.

Untuk itu, pilihlah dispenser yang memiliki daya rendah atau nyalakan hanya ketika dibutuhkan saja.

Catatan :  Buat kalian yang tinggal di kostan tipe kedua, ingin punya dispenser sendiri, tapi gak mau bayar listrik mahal, tenang... dispenser genjot mungkin bisa jadi solusi buat kalian.
dispenser genjot



4. Fitur tambahan.

Beberapa fitur tambahan yang saat ini ditawarkan, antara lain :
     - Water purifier. Secara umum, fitur ini berfungsi sebagai sebuah penyaring air minum, yang mampu menjaga kestabilan PH air dan membuatnya bebas dari bakteri. Sehingga air yang dihasilkan menjadi lebih sehat untuk dikonsumsi.
     - Variasi box bawah. Sejauh ini, ada beberapa variasi yang tersedia pada sebuah dispenser. Mulai dari tempat untuk menyimpan galon cadangan, freezer untuk menyimpan makanan atau minuman agar tetap dingin, hingga steril box yang berfungsi untuk mencuci dan mensterilkan piring, gelas, botol susu bayi, dll.

Namun bagi seorang anak kost, fitur tambahan ini hanya bersifat optional. Karena fitur-fitur ini akan membuat harga dispenser menjadi kurang manusiawi.

Sorry gue ralat...

Karena fitur-fitur ini akan membuat harga dispenser menjadi kurang anakkostsiawi.

Catatan : Sebagai perbandingan, satu buah dispenser genjot hanya dipatok dengan harga Rp 17ribu. Sedangkan satu buah dispenser dengan fitur water purifier, dipatok dengan harga Rp 7.9 juta. Yha! untuk kriteria ini, dispenser genjot tampaknya lebih ideal bagi seorang anak kost.


5. Kemudahan untuk mendapatkannya.

Perkembangan teknologi yang begitu cepat belakangan ini, membuat hampir semua hal yang awalnya terasa rumit, menjadi lebih mudah dikerjakan. Seperti misalnya, pengalaman gue tentang bagaimana ribetnya mencari sebuah dispenser, yang sempat gue tulis di awal postingan. Karena lumayan disibukkan dengan kegiatan awal perkuliahan, ditambah dengan gak mau bawa dispenser dari Bekasi, gue akhirnya memutuskan untuk beli dispenser langsung di pasar Depok. Itupun harus naik ojek dari kostan, karena di Depok gue gak punya kendaraan pribadi. Asli, ribet abis...

Tapi sekarang, 6 tahun berselang, banyak toko-toko online menawarkan produk dispenser yang begitu beragam. Salah satunya yang paling gue percaya adalah Mataharimall.com. Mereka gak cuma menawarkan kepraktisan bagi pembeli (kita hanya perlu membuka webnya lewat browser / aplikasi hape, pesan barangnya, bayar via transfer, lalu duduk manis menunggu pesanan datang), tapi mereka juga menawarkan berbagai macam harga dan model dispenser. Mulai dari dispenser genjot seharga 17 ribu, sampai dispenser yang dilengkapi dengan water purifier seharga 7.9 juta. Gak cuma itu aja, kini Mataharimall.com dilengkapi dengan layanan pengiriman dengan menggunakan GO-SEND. Sehingga kita gak perlu lagi nunggu barang yang kita pesan tiba hingga berhari-hari lamanya. So, buat para anak kost yang lagi nyari dispenser buat di kamarnya, bisa beli dispenser air di sini.

Catatan : beli dispenser air? di Mataharimall.com aja!

***

Well, itu dia beberapa kriteria yang membuat sebuah dispenser ideal untuk dimiliki oleh seorang anak kost. Semoga postingan ini bisa bermanfaat untuk khalayak ramai. Karena kalau gue boleh melanjutkan kutipan kalimat seorang filsuf Yunani yang sudah gue tulis di atas, maka kutipannya akan menjadi seperti ini :


"Jadi anak kost itu sulit, maka permudahlah hidup mereka dengan memberikan tips-tips melalui postingan blog. Lalu buatlah penulis postingan tersebut senang, dengan ketik "Aamiin" di kolom komentar dan share postingan ini ke teman-teman dekatmu.
 JANGAN SAMPAI BERHENTI DI KAMU!". 
Pagi itu adalah hari kedua gue libur masa tenang sebelum menghadapi Ujian Nasional SMP. Sebagai anak kelas 3, gue memilih untuk menghabiskan liburan kali ini dengan kegiatan-kegiatan yang gak ada hubungannya dengan pelajaran. Karena gue takut, kelulusan yang sudah di depan mata ini akan rusak akibat gue stress dengan waktu belajar yang terlalu diforsir  lalu gue pun gila  jadi suka jalan-jalan keliling komplek pakai kolor doang  nyasar sampai ke Area 51  dianggap meresahkan keamanan oleh pemerintah Amerika  ditembak pakai rudal.

See?

Efeknya memang bisa sangat mengerikan!
dan buat kalian yang nanya kenapa bisa nyasar sampai ke Area 51, gue gak tau..............
.
.
.
.
.
namanya juga orang gila!

***

Satu-satunya kegiatan bermanfaat yang gue lakukan di liburan kali ini adalah les bahasa Inggris. Karena menurut gue, sebagai bahasa internasional, bahasa Inggris memiliki peran yang sangat penting untuk menghubungkan kita dengan dunia luar. Tanpa bahasa Inggris, perkembangan karir kita akan relatif lebih lambat. Tanpa bahasa Inggris, akses terhadap ilmu pengetahuan pun menjadi terbatas, dan tanpa bahasa Inggris... kita gak akan bisa minta foto bareng bule yang ada di Kota Tua.

***

Jadi saat itu, gue les bahasa Inggris di salah satu tempat yang gak begitu jauh dari rumah. Jaraknya hanya sekitar 150 meter. Yaa, emang sih bukan tempat kursus dengan nama besar seperti LIA, English First atau Wall Street. Tapi bagi gue itupun udah cukup. Karena dengan les di tempat tersebut, gue jadi punya cerita yang bisa gue tulis di blog ini.

Ceritanya tentang salah satu teman les gue, namanya Stella. Nama lengkapnya Stella All in One.

Hehe. Gak deng, bercanda.

Nama lengkapnya Stella Natalia. Dia cantik, putih, tinggi, wajahnya agak oriental, pintar, dan yang pasti ramah. Banyak yang bilang kalau Stella ini mirip sama cewek Korea. Jika boleh mengibaratkan, maka Stella mirip banget sama istrinya Kim Jong Un.

Hehehe. Gak deng, ini juga bercanda.

Pokoknya sosok Stella itu "sempurna" di mata gue, dan sebagai cowok yang udah disunat pakai gunting di salah satu dokter di Bekasi sejak kelas 2 SD, gue pun suka sama Stella.

Suatu hari, gue berangkat ke tempat kursus lebih cepat dari biasanya. Gue berniat untuk menyelesaikan tugas minggu lalu yang belum sempat gue kerjakan di rumah. Selain itu, gue juga berharap bisa ngobrol sama Stella lebih lama. Karena gue tau, selama ini Stella selalu datang lebih awal. Yaa, siapa tau dari percakapan tersebut gue bisa menemukan kecocokan dengan dia, atau minimal bisa menemukan solusi atas masalah kesenjangan sosial dan korupsi yang ada di Indonesia.

OKE, SKIP!

Selang beberapa menit, terdengar suara sepeda yang gue tau itu adalah sepedanya Stella. By the way, tempat kursus gue ini berbentuk rumah pribadi. Jadi ketika ada seseorang yang masuk melalui pintu pagar, akan sangat terdengar suaranya.

     "Loh, kamu tumben udah sampe, Sar."
     "Iya, pengen ngerjain tugas dulu soalnya. Kamu udah selesai?"
     "Tinggal nomer 8. Aku liat dong.."
     "Nih, tapi nanti gantian yaa. Aku liat nomer 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 9, sama 10." jawab gue seraya memberikan buku catatan.
     "Yee, itumah kamu belom semua namanya!"

Saat Stella sedang asyik menyalin tugas, sekilas gue mengamati dia dari tempat duduk yang berada tepat di seberangnya. Gue melihat ada yang berbeda dari kaki Stella. Agak sedikit kotor...

Gue pun langsung teringat salah satu kutipannya Mandy Hale :
To make a difference in someone's life, you do not have to be brilliant, rich, beautiful, or perfect. You just have to care.
Yang artinya adalah....... gak tau. Gue cuma nyari di Google dengan keyword "quotes about caring someone".

     "Stel, kaki kamu kenapa tuh? ada item-itemnya gitu, kayanya kena oli sepeda deh."
     "Hah? yang mana?"
     "Itu yang di betis kanan kamu."
     "Oh, ini tato temporer, Sar. Aku baru pulang dari Bali tadi siang. Bukan oli sepeda kaya yang kamu kira! Hahahaha." kata Stella yang langsung terbahak.

ekspresi gue saat itu (sumber gambar)

Ternyata benar, setelah gue lihat betis Stella dengan lebih teliti, "noda hitam" yang gue maksud sebenarnya sebuah tato kumpulan kupu-kupu. Mungkin karena warnanya yang hitam, ditambah lagi dengan ukurannya yang agak kecil dan kurang terlihat dengan jelas, maka tato tersebut terlihat seperti noda bekas cipratan yang suka nempel di kaki kalau rantai sepeda gue baru ganti oli. Kampret...  

Ilustrasi tato kupu-kupu di betis Stella.

Singkat cerita, gue dan Stella pun lulus SMP. Kita lanjut ke SMA yang beda. Lulus dari sana, lalu lanjut ke universitas yang berbeda pula. Gue kuliah di UI, sedangkan Stella kuliah di Australia. 

Sampai akhirnya liburan semester genap tanpa sengaja mempertemukan kita di sebuah cafe di daerah Tebet. Saat itu gue lagi nunggu beberapa temen kuliah buat kumpul-kumpul. Sementara dia lagi ngedate sama pacarnya. Iya, dia sama pacarnya. Awalnya gue gak sadar kalau dia juga ada di cafe yang sama. Tapi setelah mencari tempat duduk yang pas dan memesan minuman. Stella menghampiri gue, sementara cowoknya memilih untuk pindah ke smoking room. 

Sore itu kita berdua ngobrol lumayan lama. Beralih dari satu topik ke topik lainnya yang selama ini belum sempat gue tanyakan. Sampai-sampai gue merasa, gue telah mengenal Stella sedikit lebih dalam. Suatu hal yang harusnya bisa gue lakukan 4 tahun lalu, saat masih les bahasa Inggris bareng dia. Karena terbawa suasana, gue juga jadi lupa kalau di smoking room, ada cowoknya Stella yang lagi ngeliatin gue dengan tatapan : "Buset nih kerak panci, asyik banget kayanya ngobrol sama cewek gue. Belom pernah diselengkat Pogba kali yaa."

Obrolan pun terhenti ketika salah satu teman kuliah gue datang, dan Stella memilih untuk kembali menemui pacarnya di smoking room. Sebelum pisah, dia bilang kalau ada satu hal yang mau diomongin.

Gue deg-degan.

Tapi di sisi lain, gue udah berjanji pada diri gue sendiri untuk menolak secara halus kalau tiba-tiba Stella mutusin pacarnya dan dia nembak gue kaya di acara "Katakan Putus".

     "Mau ngomong apa, Stel?" tanya gue dengan tegas.

     "Oh, ini... tangan aku kena oli sepeda nih, Sar. Hahahaha." kata Stella sambil menunjukan pergelangan tangan kirinya yang ternyata ada tato baru bertuliskan "Faith".

SIKAMPRET! DIA NGELEDEK GUE!!!

Ilustrasi tato "faith" di pergelangan tangan Stella.

Yang gue lakukan saat itu : pura-pura mati.


***

Sejak pertemuan terakhir dengan Stella di cafe Tebet, gue belum pernah ketemu dia lagi. Kita berdua pun bener-bener lost contact. Karena satu-satunya nomer hape Stella yang gue punya adalah nomer yang gue minta saat kita masih les bahasa Inggris bareng. 4 tahun gak ketemu, bikin gue jadi gak tau kabar terbaru tentang dia. Termasuk nomer hape dan juga akun social medianya.

Seorang temen kuliah gue pernah bilang satu hal yang kemudian ia beri nama dengan sebutan "Filosofi Dispenser". Kata dia begini :
Gue kadang merasa bahwa salah satu fase dalam suatu hubungan tuh seperti sebuah dispenser, dan kita-lah yang menjadi airnya. Sebab seringkali kita dipertemukan sejenak dengan seseorang dalam satu "galon" yang sama. Namun kemudian dipisahkan karena mungkin keduanya sesederhana punya tujuan hidup yang berbeda. Kita memilih untuk jadi "air panas" dan dia memilih untuk jadi "air dingin", ataupun sebaliknya. 
Yaa, nama filosofi yang agak aneh memang, meskipun gue merasa kalau kalimat di atas cukup relate dengan kondisi gue. Karena selama ini gue dan Stella hanya dipertemukan sejenak, kemudian kembali dipisahkan karena sesederhana hidup kita yang beririsan pada bagian terkecilnya aja. Tapi satu hal yang pasti, siklus sebuah titik air masih panjang, dan kita belum tau di mana kita akan dipertemukan dengan titik-titik air yang lainnya. Entah itu di danau, di awan, di lautan, atau mungkin kembali dipertemukan di sebuah galon yang sama, pada sebuah dispenser.
Latest
Previous
Next Post »